JAKARTA, SUARA HARIAN INDONESIA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang terus perkuat pengembangan sumber daya manusia melalui kolaborasi dengan dunia akademik.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama sejumlah perguruan tinggi sebagai bagian dari penguatan SMART PAS (Sistem Manajemen Aparatur Resilien dan Terampil Pemasyarakatan), Jumat (14/8).
Kolaborasi melibatkan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan STIH Litigasi Jakarta, sementara President University yang belum dapat hadir pada kesempatan tersebut tetap menyatakan komitmen untuk melanjutkan proses kerja sama.
Kerja sama diarahkan pada penguatan knowledge sharing, pendampingan akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, literasi hukum, komunikasi publik, kesejahteraan sosial, hingga pengembangan budaya belajar organisasi di lingkungan Lapas Cipinang.
Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, menegaskan bahwa tantangan pemasyarakatan membutuhkan aparatur yang terus belajar, adaptif, dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. “SMART PAS kami bangun agar proses belajar tidak berhenti pada pelatihan formal.
Melalui sinergi dengan perguruan tinggi, pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dapat terus diperkaya serta diterapkan untuk meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan,” tegasnya.
Sebagai bagian dari pelembagaan program, Kepala Bagian Tata Usaha sekaligus Action Leader SMART PAS, Ari Budiningsih, menyerahkan Buku Pedoman SMART PAS kepada Kepala Lapas dan perwakilan perguruan tinggi. Pedoman tersebut memuat mekanisme knowledge sharing, dokumentasi praktik baik dan lesson learned, Bank Pengetahuan SMART PAS, serta monitoring dan evaluasi program. “SMART PAS bukan sekadar forum berbagi materi, tetapi model pengelolaan pengetahuan internal. Pengetahuan yang sebelumnya melekat pada individu kami dorong menjadi aset organisasi yang terdokumentasi, dapat diakses, dan digunakan kembali untuk meningkatkan kinerja,” jelas Ari.
Direktur Kerja Sama Universitas Negeri Jakarta, Rahmat Darmawan, menyambut positif kolaborasi tersebut dan menilai keterlibatan perguruan tinggi dapat mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan. “Perguruan tinggi memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi melalui penelitian, pengabdian, dan pengembangan kapasitas aparatur. Kolaborasi seperti ini penting agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di kampus, tetapi dapat memberi manfaat langsung bagi peningkatan kualitas pelayanan publik,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Lapas Cipinang juga memperkenalkan LATUCIP-GO Reborn: SIMPATI (Sistem Informasi Monitoring Pelayanan Integrasi) sebagai pengembangan layanan digital yang memungkinkan Warga Binaan dan keluarga memperoleh informasi perkembangan proses integrasi secara lebih mudah dan transparan.
Kehadiran SIMPATI menunjukkan bahwa penguatan kapasitas aparatur melalui SMART PAS diarahkan pada satu tujuan yang sama, yakni menghadirkan perubahan organisasi yang berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan.
Melalui kolaborasi akademik, pelembagaan manajemen pengetahuan, dan pengembangan layanan digital, Lapas Cipinang terus membangun organisasi yang adaptif, profesional, dan berorientasi pada pembelajaran berkelanjutan. (sta)

















